Jumat, 10 Juni 2016

MEDIA BK



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Banyak sekali pendapat bahwa guru BK tidak perlu menggunakan media baik cetak maupun elektronik sebagai alat untuk pembelajaran.  Perlu diketahui setiap para pendidik atau guru sebaiknya dapat menggunakan media yang ada agar dapat mempermudah dalam pemberian informasi kepada para peserta didik yang bertujuan agar peserta didik dapat memahami informasi atau pengetahuan secara baik.
Penggunaan media dalam pembelajaran itu terutama Bimbingan Dan konseling dapat menggunakan media cetak seperti pamplet, postes, baner, dan elektronik seperti pemanfaatan teknologi interrnet (blog, facebook, dan jejaring sosial lainnya).  Media adalah sesuatu berupa peralatan yang dapat di pakai dan dimanfaatkan untuk merangsang perkembangan dari berbagai aspek baik itu fisik, motorik, social, emosi kognitif, kreatifitas dan bahasa sehingga mampu mendorong dan memudahkan terjadinya proses belajar mengajar pada guru dan peserta didik.
Tugas guru bimbingan dan konseling (konselor)  diantaranya menyusun dan melaksanakan program Bimbingan dan Konseling.  Adapun  Program BK tersebut  terdiri dari program tahunan, program semesteran, program bulanan, program mingguan, dan program harian.  Program BK yang utama adalah pemberian layanan kegiatan pendukung dan program penunjang.
Jadi, media bimbingan dan konseling dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan layanan dan isi layanan.  Hal ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling harus melihat kepada tujuan  penggunaannya dan memiliki nilai  dalam mengoptimalkan layanan yang diberikan kepada siswa.  Oleh karena itu  dengan penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses layanan bimbingan dan konseling.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan media?
2.      Bagaimana peran media dalam Bimbingan dan Konseling?
3.      Bagaimana karakteristik media yang digunakan dalam Bimbingan dan Konseling?
4.      Apa saja jenis-jenis media dalam Bimbingan dan Konseling?
5.      Apakah manfaat media dalam Bimbingan dan Konseling?









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Media
Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang” sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan.[1]
B.     Media Dalam Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka anatara konselor dengan konseli agar mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya,mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial[2]
Media dalam bimbingan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK. Namun dalam perkembanganya
Media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam melaksanakan program BK. Media bimbingan dan konseling terdiri atas dua unsur penting, yaitu
(1) unsur peralatan/perangkat keras (hardware) dan
(2) unsur pesan yang dibawanya berupa (massage/software).
Dengan demikian, media BK yang terpenting bukan peralatannya, melainkan pesan atau informasi bimbingan dan konseling yang dibawakan oleh media tersebut.
Perangkat lunak (software) adalah informasi atau bahan bimbingan dan konseling yang akan disampaikan kepada siswa, misalnya “Keterampilan Berani Mengatakan Tidak”, sedangkan perangkat keras (hardware) adalah peralatan yang digunakan untuk menyajikan pesan/bahan bimbingan dan konseling, misalnya: komputer, LCD, TV, VCD, papan bimbingan, dsb. Ketika guru BK memberikan layanan informasi, maka ia dapat menggunakan media, seperti: papan tulis, selebaran, leaflet, papan bimbingan, transparan, OHP/OHT, slide, laptop, dan LCD yang berisi bahan/materi informasi (seperti: informasi ‘Kiat Menghadapi UAN’). Dalam memberikan layanan penempatan, seperti: program penjurusan diperlukan asesmen tes maupun asesmen non tes untuk memahami potensi siswa. Di samping itu, diperlukan media untuk menjelaskan persyaratan pemilihan jurusan serta pilihan studi lanjut (misalnya: panduan pemilihan program studi di PT). Demikian pula, untuk mendokumentasikan data siswa dibutuhkan alat, berupa: folder, map pribadi, dan disket.
Dalam melaksanakan layanan konseling, media yang diperlukan adalah ruang konseling, kursi dan meja, serta format pencatat hasil konseling, di samping suara guru BK berfungsi pula sebagai media proses konseling. Selanjutnya, pada akhir semester atau akhir tahun, guru BK membuat laporan kegiatan, maka ia memerlukan sejumlah media, bahkan laporan kegiatan tersebut juga dapat berfungsi sebagai media. Dengan demikian, bahwa media sangat diperlukan mulai dari membuat perencanaan program sampai dengan penyusunan laporan akhir kegiatan.[3]




C.    Kriteria Pemilihan Media Yang Baik
Adapun kriteria dalam memilih media yang baik adalah:[4]
1.    Tujuan layanan BK yang dicapai.
2.    Karakteristik individu atau sasaran. Media yang baik sesuai dengan karakteristik sasaran, artinya antara kanak-kanak, remaja dan dewasa memiliki perbedaan karakteristik. Tingkat pendidikan, dan juga sosial ekonomi, serta pekerjaan juga berbeda.
3.    Jenis rangsangan atau stimulus dalam mengubah perilaku belajar yang diinginkan. Menggunakan audio, visual, atau gerak atau yang lainnya, sesuai dengan jenis dan karakteristik media yang digunakan.
4.    Setting atau latar lingkungan setempat. Kondisi setempat akan menentukan jenis dan karakteristik media yang digunakan.
5.    Luasnya jangkauan yang akan mendapatkan layanan BK. Dalam pemberian layanan BK media disesuaikan dengan bentuk bimbingannya, maksudnya dilakukan secara individual atau kelompok. Kelompok kecil atau besar (klasikal).
Disamping itu juga terdapat Pola pemanfaatan media,yaitu sebagai berikut:[5]
a.         Pemanfaatan media dalam situasi kelas (Classroom setting). Pada latar (setting) ini media dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan pemberian layanan yang dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas.
b.        Pemanfaatan media di luar kelas:
c.         Pemanfaatan secara bebas, yaitu media digunakan tanpa dikontrol atau diawasi. Pembuat media mendistribusikan program media ke pemakai, baik dengan cara diperjualbelikan maupun didistribusikan secara bebas, dengan harapan media itu akan dipergunakan orang dan cukup efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
d.        Pemanfaatan media secara terkontrol, yaitu media digunakan dalam suatu rangkaian yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu. Apabila media itu berupa media layanan bimbingan, para siswa (klien) dikelompokkan dengan baik sehingga mereka mampu melakukan dengan benar.
Agar media dapat digunakan sebagai pendukung tercapainya tujuan, maka perlu strategi yang meliputi tiga langkah, yaitu:
1.    Persiapan sebelum menggunakan media
2.    Kegiatan selama menggunakan media
3.    Kegiatan tindak lanjut
D.    Jenis-Jenis Media Dalam Bimbingan Dan Konseling
Ada beberapa jenis media dalam program BK yaitu:
Jenis media yang digunakan dalam program BK di sekolah ditinjau dari fungsinya  diklasifikasikan sebagai berikut:
1.        Media untuk menyampaikan informasi, contohnya Selebaran, leaflet, booklet, dan papan bimbingan
2.        Media sebagai alat ( pengumpul data dan penyimpan data)
a.    Media Pengumpul data seperti: angket, pedoman wawancara, lembaran observasi berupa anekdo record, daftar cek, skala penilaian, mekanikal device, camera, tape, daftar cek masalah,  lembar isian pilihan teman (semua dapat dibuat sendiri kecuali mekanikal device, camera, tape).
b.    Media penyimpan data seperti: kartu pribadi, buku pribadi, map, disket, folder, filing cabinet, almari, rak dll
3.        Media sebagai alat bantu dalam memberikan group information seperti media auditori maupun visual
4.        Media sebagai Biblioterapi seperti Buku-buku, majalah,dll
5.        Media sebagai alat menyampaikan laporan seperti membuat laporan bisa mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan,dll[6]
Jenis  media dalam program BK dapat diklasifikasi berdasar cara penyajian maupun fungsinya. Berdasarkan cara penyajiannya media dalam program BK terdiri atas (1) media grafis/media visual, (2) media audio, (3) media audiovisual, (4) media proyeksi, (5) multimedia, (6) media obyek.
1. Media Grafis
Media grafis atau lazim disebut media visual merupakan media untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan-pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami dengan betul artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien. Selain fungsi umum itu, secara khusus media grafis berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan jika tidak digrafiskan. Termasuk dalam kelompok media ini ialah: gambar atau foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik, kartun, poster, peta/globe, papan flannel.
2. Media Audio
Media audio, merupakan media yang pesannya ditangkap oleh indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambang-lambang auditif. Termasuk dalam kelompok media ini ialah: radio, tape recorder.
3. Media Audio Visual
Media audiovisual, merupakan media yang pesannya ditangkap oleh indera mata dan pendengaran. Dalam media ini secara bersama lambang-lambang pesan dinikmati oleh kedua indera tersebut. Termasuk dalam kelompok media ini ialah TV, video, DVD player.

4. Media Proyeksi
Media proyeksi, merupakan media yang teknis menyajiannya memerlukan alat proyektor. Termasuk dalam kelompok media ini ialah OHP, film slide, opaque projector (proyektor tak tembus pandang), film.
5. Multi Media
Multimedia juga memungkinkan dilakukan animasi, pemotongan sebagian dari gambar obyek untuk diperbesar yang dijadikan bahan pembahasan.
6. Media Obyek
Media obyek merupakan media yang menyampaikan informasi melalui ciri fisiknya itu sendiri. Media obyek terdiri atas obyek alami yakni benda itu sendiri, seperti obyek kelinci (siswa menghadapi kelinci betulan). Sedangkan media obyek yang lain ialah obyek tiruan, seperti replika, maneken (siswa menghadapi obyek tiruan, bukan benda sebenarnya).
E.     Manfaat  (Kelebihan) Penggunaan Media dalam Konseling
Pada zaman sekarang tekhnologi sudah semakin berkembang,dan saat ini kita seperti hidup dalam dunia teknologi. Hampir seluruh aktivitas tergantung pada canggihnya teknologi pada saat ini ,terutama teknologi komunikasi. Konseling sebagai usaha bantuan kepada siswa, saat ini telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini dapat ditemukan pada bagaimana teori-teori konseling muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau bagaimana media teknologi bersinggungan dengan konseling. Media dalam konseling antara lain adalah komputer dan perangkat audio visual.[7]
Komputer merupakan salah satu media yang dapat dipergunakan oleh konselor dalam proses konseling. Penggunaan komputer (internet) dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam proses pilihan karir sampai pada tahap pengambilan keputusan pilihan karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan membuka internet, maka siswa akan dapat melihat banyak informasi atau data yang dibutuhkan untuk menentukan pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Data-data yang didapat melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat dipertanggungjawabkan dan masuk akal. Data atau informasi yang didapat melalui internet adalah data-data yang sudah memiliki tingkat validitas tinggi. Hal ini sangat beralasan, karena data yang ada di internet dapat dibaca oleh semua orang di muka bumi.
Sebagai contoh, saat ini dapat kita lihat di internet tentang profil sebuah perguruan tinggi. Bahkan, informasi yang didapat tidak sebatas pada perguruan tinggi saja, tetapi bisa sampai masing-masing program studi dan bahkan sampai pada kurikulum yang dipergunakan oleh masing-masing program studi. Data-data yang didapat oleh siswa pada akhirnya menjadi suatu dasar pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja, pendampingan konselor sekolah dalam hal ini sangat diperlukan. Fasilitas di internet dapat dapat dipergunakan untuk melakukan testing bagi siswa. Tentu saja hal ini harus didasari pada kebutuhan siswa.
Penggunaan komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
1.        Akan meningkatkan kreativitas, meningkatkan keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, sehingga kelas akan menjadi lebih menarik.
2.        Akan meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa.
3.        Konselor akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan.
4.        Akan memunculkan respon yang positif terhadap penggunaan email.
5.        Tidak akan memunculkan kebosanan.
6.        Dapat ditemukan silabus, kurikulum dan lain sebagainya melalui website.
7.        Terdapat pengaturan yang baik
Selain penggunaan internet seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dipergunakan pula software seperti microsoft power point. Software ini dapat membantu konselor dalam menyambaikan bahan bimbingan secara lebih interaktif. Konselor dituntut untuk dapat menyajikan bahan layanan dengan mempergunakan imajinasinya agar bahan layanannya tidak membosankan. Program software power point memberikan kesempatan bagi konselor untuk memberikan sentuhan-sentuhan seni dalam bahan layanan informasi. Melalui program ini, yang ditayangkan tidak saja berupa tulisan-tulisan yang mungkin sangat membosankan, tetapi dapat juga ditampilkan gambar-gambar dan suara-suara yang menarik yang tersedia dalam program power point. Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula memasukkan gambar-gambar di luar fasilitas power point, sehingga sasaran yang akan dicapai menjadi lebih optimal.
Kelebihan lainnya dalam pemberian layanan Bimbingan dan Konseling dengan menggunakan media internet adalah dapat melintasi jarak dan waktu; serta klien dapat mengakses data yang dibutuhkan dengan cepat.
F.     Kerugian Penggunaan Media dalam Konseling
Walaupun saat ini masyarakat sangat tergantung pada teknologi, tetapi di lain pihak, masih banyak diantara kita yang mengalami ketakutan untuk mempergunakan teknologi. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat kita masih percaya bahwa pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh orang tua atau orang yang dituakan masih dianggap lebih baik. Hal ini tidak lepas dari budaya paternalistik yang melingkupi masyarakat kita. Sebaik apapun teknologi yang berkembang, tetapi jika pola pikir masyarakat masih terkungkung dengan nilai-nilai yang diyakini benar, maka data atau informasi yang didapat seakan-akan menjadi tidak berguna.
Hal lain yang terkait dengan penggunaan media dalam bimbingan dan konseling adalah sasaran pengguna seringkali disamakan. Walaupun ragam media sudah bermacam-macam, tetapi media ini seringkali masih belum bisa menyentuh sisi afektif seseorang. Dalam bimbingan dan konseling dikenal istilah empati. Penggunaan media, seringkali pula akan “menghilangkan” empati konselor, jika konselor mempergunakan media sebagai alat bantu utama. Klien datang ke ruang konseling tidak selalu membutuhkan informasi dari internet atau komputer, bahkan ada kemungkinan klien atau siswa datang ke ruang konseling juga tidak membutuhkan bantuan dari konselor secara langsung melalui proses konseling. Tetapi adakalanya, siswa atau klien datang ke ruang konseling hanya ingin mendapatkan senyuman dari konselor atau penerimaan tanpa syarat dari konselor.
Dalam menggunakan media, seperti internet ada kekurangannya seperti data sering kali sulit dilindungi; sulit mengetahui respon klien secara langsung; serta mahal. Selain itu ada beberapa dampak negatif dari beberapa alat media yang digunakan jika pengguna dan pelaksananya tidak memahami dampak yang akan ditimbulkan. Beberapa contoh dampak negatif penyalahgunaan teknologi informasi seperti :
1.        Beredarnya rekaman video porno di ponsel
2.        Beredarnya video porno bajakan yang dilakukan oleh anak negeri
3.        Banyaknya video-video yang lebih kepada video porno yang beredar di internet yang dapat di akses dan di lihat oleh kalangan manusia tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak.
Peralatan teknologi yang ada saat ini hanya bisa bermanfaat jika dimanfaatkan oleh mereka yang memahami penggunaan masing-masing alat tersebut. Artinya penggunaan teknologi ini akan memunculkan efek yang baik jika dijalankan oleh mereka yang paham peralatan tersebut.






BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Media adalah sesuatu berupa peralatan yang dapat di pakai dan dimanfaatkan untuk merangsang perkembangan dari berbagai aspek baik itu fisik, motorik, social, emosi kognitif, kreatifitas dan bahasa sehingga mampu mendorong dan memudahkan terjadinya proses belajar mengajar. Sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima baik oleh penerima pesan melalui media yang digunakan. Dalam melaksanakan proses layanan Bimbingan dan Konseling juga membutuhkan Media sehingga dapat membantu dan mempermudah para konselor dalam pelaksanaan Layanan BK.
Media dalam bimbingan dan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan berbagai kegiatan BK,namun dalam perkembangannya media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan berbagai kegiatan bimbingan dan konseling, tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam pelaksanaan program BK.
B.       Saran
Penggunaan media sangat mendukung dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling, untuk itu agar semua pihak baik itu dari guru bk sendiri maupun pihak-pihak lain agar memfasilitasi secara menyeluruh media-media yang menjadi pendukung
Dan diharapkan pula gar semua pihak-pihak terkait terutama para orang tua untuk mengontrol penggunaan media agar media yang digunakan tersebut tidak disalah gunakan



DAFTAR PUSTAKA


Sadiman, Arief S. 2008. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo

A, Halenn.2002.  Bimbingan dan Konseling.  Padang: Ciputat Pers

Soedamadji, Hartono Boy. 2005. Psikologi Konseling. Surabaya : University Press.


[1]  Arief, Sadiman. Media Pendidikan. ( Jakarta: Raja Grafindo. 2008) h. 6
[2]  Halenn, A. Bimbingan dan Konseling. ( Padang: Ciputat Pers. 2002) h. 11
[4]  Hartono, Soedamadji, Boy. 2005. Psikologi Konseling. ( Surabaya : University Press. 2005)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar