Rabu, 15 Juni 2016
Jumat, 10 Juni 2016
MEDIA BK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak sekali pendapat bahwa guru BK tidak perlu
menggunakan media baik cetak maupun elektronik sebagai alat untuk
pembelajaran. Perlu diketahui setiap
para pendidik atau guru sebaiknya dapat menggunakan media yang ada agar dapat
mempermudah dalam pemberian informasi kepada para peserta didik yang bertujuan
agar peserta didik dapat memahami informasi atau pengetahuan secara baik.
Penggunaan media dalam pembelajaran itu terutama
Bimbingan Dan konseling dapat menggunakan media cetak seperti pamplet, postes,
baner, dan elektronik seperti pemanfaatan teknologi interrnet (blog, facebook,
dan jejaring sosial lainnya). Media
adalah sesuatu berupa peralatan yang dapat di pakai dan dimanfaatkan untuk
merangsang perkembangan dari berbagai aspek baik itu fisik, motorik, social,
emosi kognitif, kreatifitas dan bahasa sehingga mampu mendorong dan memudahkan
terjadinya proses belajar mengajar pada guru dan peserta didik.
Tugas guru bimbingan dan konseling (konselor)
diantaranya menyusun dan melaksanakan program Bimbingan dan
Konseling. Adapun Program BK
tersebut terdiri dari program tahunan, program semesteran, program
bulanan, program mingguan, dan program harian.
Program BK yang utama adalah pemberian layanan kegiatan pendukung dan
program penunjang.
Jadi, media bimbingan dan konseling dalam
penggunaannya harus relevan dengan tujuan layanan dan isi layanan. Hal ini mengandung makna bahwa penggunaan
media dalam layanan bimbingan dan konseling harus melihat kepada tujuan
penggunaannya dan memiliki nilai dalam mengoptimalkan layanan yang
diberikan kepada siswa. Oleh karena itu
dengan penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling berfungsi
untuk meningkatkan kualitas proses layanan bimbingan dan konseling.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan media?
2.
Bagaimana peran media dalam
Bimbingan dan Konseling?
3.
Bagaimana karakteristik media yang
digunakan dalam Bimbingan dan Konseling?
4.
Apa saja jenis-jenis media dalam
Bimbingan dan Konseling?
5.
Apakah manfaat media dalam Bimbingan dan Konseling?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Media
Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari
“medium”, yang berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan
dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau
“sedang” sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar
atau meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima
pesan.[1]
B. Media Dalam
Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian
bantuan yang berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung
dan tatap muka anatara konselor dengan konseli agar mampu memperoleh pemahaman
yang lebih baik terhadap dirinya,mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan
mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah
perkembangan yang optimal, sehingga dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan
kemanfaatan sosial[2]
Media dalam bimbingan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi
perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK.
Namun dalam perkembanganya
Media BK tidak sebatas untuk perantara atau
pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK tetapi memiliki
makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam
melaksanakan program BK. Media bimbingan dan konseling terdiri atas dua unsur
penting, yaitu
(1) unsur peralatan/perangkat keras (hardware) dan
(2) unsur pesan yang dibawanya berupa (massage/software).
Dengan demikian, media BK yang terpenting bukan peralatannya,
melainkan pesan atau informasi bimbingan dan konseling yang dibawakan oleh
media tersebut.
Perangkat lunak (software) adalah informasi atau bahan bimbingan
dan konseling yang akan disampaikan kepada siswa, misalnya “Keterampilan Berani
Mengatakan Tidak”, sedangkan perangkat keras (hardware) adalah peralatan yang
digunakan untuk menyajikan pesan/bahan bimbingan dan konseling, misalnya:
komputer, LCD, TV, VCD, papan bimbingan, dsb. Ketika guru BK memberikan layanan
informasi, maka ia dapat menggunakan media, seperti: papan tulis, selebaran,
leaflet, papan bimbingan, transparan, OHP/OHT, slide, laptop, dan LCD yang
berisi bahan/materi informasi (seperti: informasi ‘Kiat Menghadapi UAN’). Dalam
memberikan layanan penempatan, seperti: program penjurusan diperlukan asesmen
tes maupun asesmen non tes untuk memahami potensi siswa. Di samping itu,
diperlukan media untuk menjelaskan persyaratan pemilihan jurusan serta pilihan
studi lanjut (misalnya: panduan pemilihan program studi di PT). Demikian pula,
untuk mendokumentasikan data siswa dibutuhkan alat, berupa: folder, map
pribadi, dan disket.
Dalam melaksanakan layanan konseling, media yang diperlukan adalah
ruang konseling, kursi dan meja, serta format pencatat hasil konseling, di samping
suara guru BK berfungsi pula sebagai media proses konseling. Selanjutnya, pada
akhir semester atau akhir tahun, guru BK membuat laporan kegiatan, maka ia
memerlukan sejumlah media, bahkan laporan kegiatan tersebut juga dapat
berfungsi sebagai media. Dengan demikian, bahwa media sangat diperlukan mulai
dari membuat perencanaan program sampai dengan penyusunan laporan akhir
kegiatan.[3]
C. Kriteria Pemilihan Media Yang Baik
Adapun kriteria dalam memilih media yang baik adalah:[4]
1. Tujuan
layanan BK yang dicapai.
2. Karakteristik
individu atau sasaran. Media yang baik sesuai dengan karakteristik sasaran,
artinya antara kanak-kanak, remaja dan dewasa memiliki perbedaan karakteristik.
Tingkat pendidikan, dan juga sosial ekonomi, serta pekerjaan juga berbeda.
3. Jenis
rangsangan atau stimulus dalam mengubah perilaku belajar yang diinginkan.
Menggunakan audio, visual, atau gerak atau yang lainnya, sesuai dengan jenis
dan karakteristik media yang digunakan.
4. Setting
atau latar lingkungan setempat. Kondisi setempat akan menentukan jenis dan
karakteristik media yang digunakan.
5. Luasnya
jangkauan yang akan mendapatkan layanan BK. Dalam pemberian layanan BK media
disesuaikan dengan bentuk bimbingannya, maksudnya dilakukan secara individual
atau kelompok. Kelompok kecil atau besar (klasikal).
a.
Pemanfaatan
media dalam situasi kelas (Classroom setting). Pada latar (setting) ini media
dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan pemberian layanan yang dipadukan
dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas.
b.
Pemanfaatan
media di luar kelas:
c.
Pemanfaatan
secara bebas, yaitu media digunakan tanpa dikontrol atau diawasi. Pembuat media
mendistribusikan program media ke pemakai, baik dengan cara diperjualbelikan
maupun didistribusikan secara bebas, dengan harapan media itu akan dipergunakan
orang dan cukup efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
d.
Pemanfaatan
media secara terkontrol, yaitu media digunakan dalam suatu rangkaian yang diatur secara sistematik
untuk mencapai tujuan tertentu. Apabila media itu berupa media layanan
bimbingan, para siswa (klien) dikelompokkan dengan baik sehingga mereka mampu
melakukan dengan benar.
Agar
media dapat digunakan sebagai pendukung tercapainya tujuan, maka perlu strategi
yang meliputi tiga langkah, yaitu:
1. Persiapan
sebelum menggunakan media
2. Kegiatan
selama menggunakan media
3.
Kegiatan tindak
lanjut
D. Jenis-Jenis Media Dalam Bimbingan Dan Konseling
Ada beberapa jenis media dalam program BK yaitu:
Jenis
media yang digunakan dalam program BK di sekolah ditinjau dari fungsinya diklasifikasikan sebagai berikut:
1.
Media
untuk menyampaikan informasi, contohnya Selebaran,
leaflet, booklet, dan papan bimbingan
2.
Media
sebagai alat ( pengumpul data dan penyimpan data)
a.
Media Pengumpul data seperti:
angket, pedoman wawancara, lembaran observasi berupa anekdo record, daftar cek,
skala penilaian, mekanikal device, camera, tape, daftar cek masalah, lembar isian pilihan teman (semua dapat dibuat
sendiri kecuali mekanikal device, camera, tape).
b.
Media penyimpan data seperti:
kartu pribadi, buku pribadi, map, disket, folder, filing cabinet, almari, rak
dll
3.
Media
sebagai alat bantu dalam memberikan group information seperti media auditori maupun visual
4.
Media
sebagai Biblioterapi seperti Buku-buku, majalah,dll
5.
Media sebagai alat
menyampaikan laporan seperti membuat laporan bisa mingguan, bulanan, semesteran
dan tahunan,dll[6]
Jenis media dalam program BK dapat diklasifikasi
berdasar cara penyajian maupun fungsinya. Berdasarkan cara penyajiannya media
dalam program BK terdiri atas (1) media grafis/media visual, (2) media audio,
(3) media audiovisual, (4) media proyeksi, (5) multimedia, (6) media obyek.
1.
Media Grafis
Media
grafis atau lazim disebut media visual merupakan media untuk menyalurkan pesan
dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera
penglihatan. Pesan-pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam
simbol-simbol komunikasi visual. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami dengan
betul artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien. Selain
fungsi umum itu, secara khusus media grafis berfungsi pula untuk menarik
perhatian, memperjelas ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin
akan cepat dilupakan jika tidak digrafiskan. Termasuk dalam kelompok media ini
ialah: gambar atau foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik, kartun, poster,
peta/globe, papan flannel.
2.
Media Audio
Media
audio, merupakan media yang pesannya ditangkap oleh indera pendengaran. Pesan
yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambang-lambang auditif. Termasuk
dalam kelompok media ini ialah: radio, tape recorder.
3.
Media Audio Visual
Media
audiovisual, merupakan media yang pesannya ditangkap oleh indera mata dan
pendengaran. Dalam media ini secara bersama lambang-lambang pesan dinikmati
oleh kedua indera tersebut. Termasuk dalam kelompok media ini ialah TV, video,
DVD player.
4.
Media Proyeksi
Media
proyeksi, merupakan media yang teknis menyajiannya memerlukan alat proyektor.
Termasuk dalam kelompok media ini ialah OHP, film slide, opaque projector
(proyektor tak tembus pandang), film.
5.
Multi Media
Multimedia
juga memungkinkan dilakukan animasi, pemotongan sebagian dari gambar obyek
untuk diperbesar yang dijadikan bahan pembahasan.
6.
Media Obyek
Media
obyek merupakan media yang menyampaikan informasi melalui ciri fisiknya itu
sendiri. Media obyek terdiri atas obyek alami yakni benda itu sendiri, seperti
obyek kelinci (siswa menghadapi kelinci betulan). Sedangkan media obyek yang
lain ialah obyek tiruan, seperti replika, maneken (siswa menghadapi obyek
tiruan, bukan benda sebenarnya).
E. Manfaat (Kelebihan) Penggunaan
Media dalam Konseling
Pada
zaman sekarang tekhnologi sudah semakin berkembang,dan saat ini kita seperti
hidup dalam dunia teknologi. Hampir seluruh aktivitas tergantung pada
canggihnya teknologi pada saat ini ,terutama teknologi komunikasi. Konseling
sebagai usaha bantuan kepada siswa, saat ini telah mengalami
perubahan-perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini dapat ditemukan pada
bagaimana teori-teori konseling muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau
bagaimana media teknologi bersinggungan dengan konseling. Media dalam konseling
antara lain adalah komputer dan perangkat audio visual.[7]
Komputer
merupakan salah satu media yang dapat dipergunakan oleh konselor dalam proses
konseling. Penggunaan
komputer (internet) dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam proses
pilihan karir sampai pada tahap pengambilan keputusan pilihan karir. Hal ini
sangat memungkinkan, karena dengan membuka internet, maka siswa akan dapat
melihat banyak informasi atau data yang dibutuhkan untuk menentukan pilihan
studi lanjut atau pilihan karirnya.
Data-data
yang didapat melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat
dipertanggungjawabkan dan masuk akal. Data atau informasi yang didapat melalui
internet adalah data-data yang sudah memiliki tingkat validitas tinggi. Hal ini
sangat beralasan, karena data yang ada di internet dapat dibaca oleh semua
orang di muka bumi.
Sebagai
contoh, saat ini dapat kita lihat di internet tentang profil sebuah perguruan
tinggi. Bahkan, informasi yang didapat tidak sebatas pada perguruan tinggi
saja, tetapi bisa sampai masing-masing program studi dan bahkan sampai pada
kurikulum yang dipergunakan oleh masing-masing program studi. Data-data yang
didapat oleh siswa pada akhirnya menjadi suatu dasar pilihan yang dapat
dipertanggungjawabkan. Tentu saja, pendampingan konselor sekolah dalam hal ini
sangat diperlukan. Fasilitas
di internet dapat dapat dipergunakan untuk melakukan testing bagi siswa. Tentu
saja hal ini harus didasari pada kebutuhan siswa.
Penggunaan
komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa
keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
1.
Akan
meningkatkan kreativitas, meningkatkan keingintahuan dan memberikan variasi
pengajaran, sehingga kelas akan menjadi lebih menarik.
2.
Akan
meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan
siswa.
3.
Konselor akan
memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan.
4.
Akan memunculkan
respon yang positif terhadap penggunaan email.
5.
Tidak akan
memunculkan kebosanan.
6.
Dapat ditemukan
silabus, kurikulum dan lain sebagainya melalui website.
7.
Terdapat
pengaturan yang baik
Selain
penggunaan internet seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dipergunakan
pula software seperti microsoft power point. Software ini dapat membantu
konselor dalam menyambaikan bahan bimbingan secara lebih interaktif. Konselor
dituntut untuk dapat menyajikan bahan layanan dengan mempergunakan imajinasinya
agar bahan layanannya tidak membosankan. Program software power point
memberikan kesempatan bagi konselor untuk memberikan sentuhan-sentuhan seni
dalam bahan layanan informasi. Melalui program ini, yang ditayangkan tidak saja
berupa tulisan-tulisan yang mungkin sangat membosankan, tetapi dapat juga
ditampilkan gambar-gambar dan suara-suara yang menarik yang tersedia dalam
program power point. Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula memasukkan
gambar-gambar di luar fasilitas power point, sehingga sasaran yang akan dicapai
menjadi lebih optimal.
Kelebihan
lainnya dalam pemberian layanan Bimbingan dan Konseling dengan menggunakan
media internet adalah dapat melintasi jarak dan waktu; serta klien dapat
mengakses data yang dibutuhkan dengan cepat.
F. Kerugian Penggunaan Media dalam Konseling
Walaupun saat ini masyarakat sangat
tergantung pada teknologi, tetapi di lain pihak, masih banyak diantara kita
yang mengalami ketakutan untuk mempergunakan teknologi. Tidak dapat dipungkiri
bahwa sebagian besar masyarakat kita masih percaya bahwa pernyataan-pernyataan
yang diberikan oleh orang tua atau orang yang dituakan masih dianggap lebih
baik. Hal ini tidak lepas dari budaya paternalistik yang melingkupi masyarakat
kita. Sebaik apapun teknologi yang berkembang, tetapi jika pola pikir
masyarakat masih terkungkung dengan nilai-nilai yang diyakini benar, maka data
atau informasi yang didapat seakan-akan menjadi tidak berguna.
Hal
lain yang terkait dengan penggunaan media dalam bimbingan dan konseling adalah
sasaran pengguna seringkali disamakan. Walaupun ragam media sudah
bermacam-macam, tetapi media ini seringkali masih belum bisa menyentuh sisi
afektif seseorang. Dalam bimbingan dan konseling dikenal istilah empati.
Penggunaan media, seringkali pula akan “menghilangkan” empati konselor, jika
konselor mempergunakan media sebagai alat bantu utama. Klien datang ke ruang
konseling tidak selalu membutuhkan informasi dari internet atau komputer, bahkan
ada kemungkinan klien atau siswa datang ke ruang konseling juga tidak
membutuhkan bantuan dari konselor secara langsung melalui proses konseling.
Tetapi adakalanya, siswa atau klien datang ke ruang konseling hanya ingin
mendapatkan senyuman dari konselor atau penerimaan tanpa syarat dari konselor.
Dalam
menggunakan media, seperti internet ada kekurangannya seperti data sering kali
sulit dilindungi; sulit mengetahui respon klien secara langsung; serta mahal.
Selain itu ada beberapa dampak negatif dari beberapa alat media yang digunakan
jika pengguna dan pelaksananya tidak memahami dampak yang akan ditimbulkan.
Beberapa contoh dampak negatif penyalahgunaan teknologi informasi seperti :
1.
Beredarnya
rekaman video porno di ponsel
2.
Beredarnya video
porno bajakan yang dilakukan oleh anak negeri
3.
Banyaknya
video-video yang lebih kepada video porno yang beredar di internet yang dapat
di akses dan di lihat oleh kalangan manusia tidak hanya orang dewasa tetapi
juga anak-anak.
Peralatan
teknologi yang ada saat ini hanya bisa bermanfaat jika dimanfaatkan oleh mereka
yang memahami penggunaan masing-masing alat tersebut. Artinya penggunaan
teknologi ini akan memunculkan efek yang baik jika dijalankan oleh mereka yang
paham peralatan tersebut.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Media adalah sesuatu berupa peralatan yang dapat di pakai
dan dimanfaatkan untuk merangsang perkembangan dari berbagai aspek baik itu
fisik, motorik, social, emosi kognitif, kreatifitas dan bahasa sehingga mampu
mendorong dan memudahkan terjadinya proses belajar mengajar. Sehingga
pesan yang ingin disampaikan dapat diterima baik oleh penerima pesan melalui
media yang digunakan. Dalam melaksanakan proses layanan Bimbingan dan Konseling
juga membutuhkan Media sehingga dapat membantu dan mempermudah para konselor
dalam pelaksanaan Layanan BK.
Media dalam bimbingan dan konseling sebagai hal yang
digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor)
melaksanakan berbagai kegiatan BK,namun dalam perkembangannya media BK tidak
sebatas untuk perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan
berbagai kegiatan bimbingan dan konseling, tetapi memiliki makna yang lebih
luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam pelaksanaan program BK.
B. Saran
Penggunaan media sangat mendukung dalam pemberian layanan
bimbingan dan konseling, untuk itu agar semua pihak baik itu dari guru bk
sendiri maupun pihak-pihak lain agar memfasilitasi secara menyeluruh
media-media yang menjadi pendukung
Dan diharapkan pula gar semua pihak-pihak terkait
terutama para orang tua untuk mengontrol penggunaan media agar media yang
digunakan tersebut tidak disalah gunakan
DAFTAR PUSTAKA
Sadiman, Arief
S. 2008. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo
A, Halenn.2002.
Bimbingan dan Konseling. Padang: Ciputat Pers
Soedamadji, Hartono Boy. 2005. Psikologi Konseling. Surabaya
: University Press.
Langganan:
Postingan (Atom)