BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap
anak memilki anugrah tersendiri yang diberikan dari sang maha pencipta
kepadanya melalui berbagai cara salah satunya adalah sperti anak yang berbakat.
Anugrah yang diberikan bukan hanya saja berupa keblebihan namun erkadang
kekuranganpun termasuk anugrah dari tuhan yang diberikan kepada umatnya. Setiap
kelebihan dan kekurangan pada manusia pada dasarnya harus di syukuri dan cara
yang mensyukuri yang paling baik adalah dengan mengembangkan kekurangan menjadi
suatu kelebihan dan menjadikan kelebihan sebagai sebagai perantara untuk
membantu orang lain dalam hal kebaikan.
Dalam
makalah ini akan dibahasa bagaimana cara menangani anak yang berbakat, oleh
karena itu mengapa anak berbakat masuk kedalam kategori anak berkebutuhan
khusus karena pada dasarnya anak berbakat itu anak yang memilki perbedaan
dengan anak yang lainnya sehingga perlu mendapatkan penanganan atau wadah untuk
menampung anak berbakat tersebut.
Isu
menarik berkaitan dengan layanan pendidikan bagi anak berbakat (gifted) yang
dalam bahasa undang – undang disebut dengan peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa atau lebih popular di masyarakat dengan cerdas
istimewa (CI) dan bakat istimewa (BI) adalah adanya beragam motivasi dan
implementasinya.
Dalam perspektif global,
penyelenggaraan program akselerasi memberikan nilai positif, karena tidak dapat
dipungkiri bahwa tantangan global dan persaingan antar bangsa dalam berbagai
aspek kehidupan semakin nyata. Sehingga dengan penyelengaraan program
akselerasi diharapkan lahir sumber daya manusia unggul yang dapat bersaing
dalam lingkup nasional dan global.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari anak berbakat?
2. Bagaimana Klasifikasi anak berbakat?
3. Bagaimana ciri-ciri anak berbakat?
4. Bagaimana cara penanganan anak berbakat?
C.
Tujuan
1. Mengetahui definisi atau pengertian dari anak berbakat
2. Mengetahui bagaimana klasifikasi dari anak bernakat
3. Mengetahui ciri-ciri anak berbakat
4. Mengatahui bagaimana cara penanganan anak berbakat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Anak Berbakat
Pengertian berbakat di
Amerika Serikat pada dasarnya dikaitkan dengan skor tes inteligensia Stanford
Binet yang dikembangkan oleh Terman setelah Perang Dunia I. Dalam hasil tesnya
itu, anak-anak yang memiliki skor IQ 130 atau 140 dinyatakan sebagai anak
berbakat (Kirk & Gallagher, 1979:6). Sekitar tahun 1950
pengertian tersebut mulai berkembang ketika para pendidik di Amerika Serikat
berusaha memberikan pengertian yang lebih luas tentang anak berbakat.
Pada waktu itu yang dimaksud
dengan anak berbakat (gifted dan talented) ialah mereka yang menunjukkan secara
konsisten penampilan luar biasa hebat dalam suatu bidang yang berfaedah (Henry,
seperti dikutip oleh Kirk dan Gallagher, 1979:61). Adapun definisi yang
digunakan dalam Public Law 97-135 yang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat
pada tahun 1981, yang dimaksud dengan anak berbakat (gifted and talented) ialah
berikut ini.
Anak yang menunjukkan
kemampuan/penampilan yang tinggi dalam bidang-bidang, seperti intelektual,
kreatif, seni, kapasitas kepemimpinan atau bidang-bidang, akademik khusus, dan
yang memerlukan pelayanan-pelayanan atau aktivitas-aktivitas yang tidak biasa disediakan
oleh sekolah agar tiap kemampuan berkembang secara penuh (Clark, 1983:5).
Banyak istilah keberbakatan (anak berbakat) yang digunakan
dalam psikologi seperti gifted, talented, genius dan prodigy ternyata tidak
memiliki satu definisi atau batasan yang sama, hanya saja memiliki pengertian
yang saling melengkapi antara satu istilah dengan istilah lainnya.
Istilah gifted ditujukan untuk orang, anak didik atau siswa
yang memiliki kemampuan akademis (secara umum) yang tinggi, yang ditandai
dengan didapatkannya skor IQ yang tinggi pada pengerjaan tes
kecerdasan/intelegensi, sedangkan talented adalah kebalikannya, ditujukan untuk
orang yang memiliki kemampuan unggul dalam bidang akademis yang khusus (seperti
matematika, bahasa), juga bidang seni, musik, dan drama.
Jadi
kalau gifted itu ditujukan untuk kemampuan akademis secara umum, sedangkan
talented ditujukan untuk dua kemampuan unggul:
• Bidang akademis khusus
• Bidang non-akademis
• Bidang akademis khusus
• Bidang non-akademis
Bakat (aptitude) biasanya diartikan sebagai kemampuan bawaan
yang merupakan potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau
dilatih agar dapat terwujud. Dalam referensi lain dijelaskan bahwa bakat ialah
kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan, yang relatif
bisa bersifat umum (minsalnya, bakat intelektual umum) atau khusus (bakat
akademis khusus), maka bakat khusus disebut juga talent.
Contoh orang yang talented bisa diwakili oleh Bung Karno
yang sangat jago dalam berpidato dan jago menguasai massa. Presiden Soekarno
(EYD: Sukarno) dapat berpidato berjam-jam tanpa jeda dan tanpa teks, dan
anehnya pendengarnya tidak jenuh-jenuh dan tetap serius mendengarkan beliau.
Mengenai betapa berbakatnya Bung Karno dalam kemampuan berpidato dan
mempersuasi massa dapat dibaca pada artikel Keajaiban-keajaiban Pidato Bung
Karno.
B. Klasifikasi Anak Berbakat
Berikut
adalah klasifikasi anak berbakat :
1. Genius :
Genius ialah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa,
sehingga dapatmenciptakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya.Intelligence
Quotien-nya (IQ) berkisar antara 140 sampai 200.Anak genius memiliki
sifat-sifat positif sebagai berikut; daya abstraksinya baik sekali, mempunyai
banyak ide, sangat kritis, sangat kreatif, suka menganalisis, dan sebagainya.
Di samping memiliki sifat-sifat positif juga memiliki sifat negatif,
diantaranya; cenderung hanya mementingkan dirinya sendiri (egois), temperamennya
tinggi sehingga cepat bereaksi (emosional), tidak mudah bergaul, senang
menyendiri karena sibuk melakukan penelitian, dan tidak mudah menerima pendapat
orang lain.
2. Gifted :
Anak ini disebut juga gifted and talented adalah anak yang
tingkatkecerdasannya (IQ) antara 125 sampai dengan 140. Di samping memiliki IQ
tinggi, juga bakatnya yang sangat menonjol, seperti ; bakat seni musik, drama,
dan ahli dalam memimpin masyarakat. Anak gifted diantaranya memiliki
karakteristik; mempunyai perhatian terhadap sains, serba ingin tahu,
imajinasinya kuat, senang membaca, dan senang akan koleksi.
3. Superior :
Anak superior tingkat kecerdasannya berkisar antara 110
sampai dengan 125sehingga prestasi belajarnya cukup tinggi.Anak superior
memiliki karakteristik sebagai berikut; dapat berbicara lebih dini, dapat
membaca lebih awal, dapat mengerjakan pekerjaan sekolah dengan mudah dan dapat
perhatian dari temantemannya.James H. Bryan and Tanis H. Bryan (1979; 302)
mengemukakan bahwa karakteristik anak berbakat itu (gifted) meliputi; physical,
personal, and social characteristics. Sedangkan David G. Amstrogn and Tom V.
Savage (1983; 327) mengemukakan; “Gifted and talented students are individuals
who arecharacteristized by a blaned of (1) high intelligence, (2) high task
comitment, and (3) high creativity. Secara umum hampir semua pendapat itu sama,
bahwa anak berbakat memiliki kemampuan yang tinggi jika dibandingkan dengan
anak-anak pada umumnya.
Hasil studi lain menemukan bahwa “Anak-anak berbakat
memiliki karakteristik belajar yang berbeda dengan anak-anak normal. Mereka
cenderung memiliki kelebihan menonjol dalam kosa kata dan menggunakannya secara
luwes, memiliki informasi yang kaya, cepat dalam menguasai bahan pelajaran,
cepat dalam memahami hubungan antar fakta, mudah memahami dalil-dalil dan
formulaformula, tajam kemampuan analisisnya, membaca banyak bahan bacaan (gemar
membaca), peka terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, kritis dan
memiliki rasa ingin yang sangat besar” (Renzuli, 1979, Fahrle dkk.; 1985,
Galagher, 1985, Maker; 1982) dalam Dedi Supriadi (1992; 9).
C. Ciri-ciri Anak Berbakat
a) Renzulli dan kawan – kawan (1981), dari hasil penelitiannya
menyimpulkan bahwa yang menentukan bakat seseorang pada pokoknya merujuk pada
tiga kelompok ciri-ciri, yakni:
1. Kemampuan di atas rata – rata
Kemampuan di atas rata – rata tidak berarti bahwa kemampuan itu harus unggul. Yang pokok ialah kemampuan itu harus cukup diimbangi oleh kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas. Selain itu, yang dimaksud dengan kemampuan umum ialah suatu bidang – bidang kemampuan umum yang biasanya diukur dengan tes intelegensi, tes prestasi (achievement test), tes bakat (aptitude test), atau tes kemampuan mental.
Kemampuan di atas rata – rata tidak berarti bahwa kemampuan itu harus unggul. Yang pokok ialah kemampuan itu harus cukup diimbangi oleh kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas. Selain itu, yang dimaksud dengan kemampuan umum ialah suatu bidang – bidang kemampuan umum yang biasanya diukur dengan tes intelegensi, tes prestasi (achievement test), tes bakat (aptitude test), atau tes kemampuan mental.
2. Kreativitas
Kreativitas ialah kemampuan untuk memberikan gagasan – gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri – ciri aptitude seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas) dalam pemikiran maupun ciri – ciri (non-aptitude) seperti; rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.
Kreativitas ialah kemampuan untuk memberikan gagasan – gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri – ciri aptitude seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas) dalam pemikiran maupun ciri – ciri (non-aptitude) seperti; rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.
3. Tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas
Tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas menunjuk pada semangat dan motivasi untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu tugas, suatu pengikatan diri dari dalam. Jadi, bukan tanggung jawab yang diterima dari luar.
Tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas menunjuk pada semangat dan motivasi untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu tugas, suatu pengikatan diri dari dalam. Jadi, bukan tanggung jawab yang diterima dari luar.
b) R.A. Martison dalam bukunya The Identification of the Gifted
and Talented (1974), merinci anak-anak berbakat sebagai berikut:
• Membaca pada usia yang relatif lebih muda.
• Membaca lebih cepat dan lebih banyak.
• Memiliki perbendaharaan kata yang luas.
• Memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
• Mempunyai minat yang luas, juga pada persoalan “dewasa”.
• Mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri.
• Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal.
• Memberikan berbagai jawaban yang baik.
• Bisa membeikan banyak gagasan.
• Luwes dalam berfikir,
• Terbuka untuk ransangan-ransangan dari lingkungan.
• Memiliki pengalaman yang tajam.
• Bisa berkonsentrasi untuk waktu yang lebih panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati.
• Berfikir kritis, juga terhadap diri sendiri.
• Senang mencoba hal-hal baru.
• Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sisntesis yang tinggi.
• Sedang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah.
• Cepat mendapat hubungan hubungan-hubungan (sebab akibat).
• Berperilaku terarah pada tujuan.
• Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
• Mempunyai banyak kegemaran (hobi).
• Memiliki daya ingat yang kuat.
• Tidak cepat puas dengan prestasinya.
• Sensitif dan mengunakan intuisi (firasat).
• Mengingatkan kebebasan dalam gerakkan dan tindakkan.
• Membaca pada usia yang relatif lebih muda.
• Membaca lebih cepat dan lebih banyak.
• Memiliki perbendaharaan kata yang luas.
• Memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
• Mempunyai minat yang luas, juga pada persoalan “dewasa”.
• Mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri.
• Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal.
• Memberikan berbagai jawaban yang baik.
• Bisa membeikan banyak gagasan.
• Luwes dalam berfikir,
• Terbuka untuk ransangan-ransangan dari lingkungan.
• Memiliki pengalaman yang tajam.
• Bisa berkonsentrasi untuk waktu yang lebih panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati.
• Berfikir kritis, juga terhadap diri sendiri.
• Senang mencoba hal-hal baru.
• Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sisntesis yang tinggi.
• Sedang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah.
• Cepat mendapat hubungan hubungan-hubungan (sebab akibat).
• Berperilaku terarah pada tujuan.
• Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
• Mempunyai banyak kegemaran (hobi).
• Memiliki daya ingat yang kuat.
• Tidak cepat puas dengan prestasinya.
• Sensitif dan mengunakan intuisi (firasat).
• Mengingatkan kebebasan dalam gerakkan dan tindakkan.
D. Jenis Layanan Bagi Anak Berbakat
1.
Kurikulum
Selain masalah kriteria dan prosedur identifikasi, perhatian
khusus kepada anak berbakat melibatkan beberapa dimensi lain, seperti
dikemukakan oleh Dedi Supriadi (1992; 11) yaitu; “Perancangan kurikulum,
penyediaan sarana pembelajarannya, model perllakuannya, kerjasama dengan
keluarga dan pihak luar, serta model bimbingan dan konselingnya”. Kurikulum
berdiferensiasi bagi anak berbakat mengacu pada penanjakan kehidupan mental
melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreativitasnya serta mencakup
berbagai pengalaman belajar intelektual pada tingkat tinggi. Dilihat dari
kebutuhan perkembangan anak berbakat, maka kurikulum berdiferensiasi
memperhatikan perbedaaan kualitatif individu berbakat dari manusia
lainnya.Dalam kurikulum berdeferensiasi terjadi penggemukan materi, artinya
materi kurikulum diperluas atau diperdalam tanpa menjadi lebih banyak.Secara
kualitatif materi pelajaran berubah daalam penggemukan beberapa konsep esensial
dari kurikulum umum sesuai dengan tuntutan bakat, perilaku, keterampilan dan
pengetahuan serta sifat luar biasa anak berbakat.
Dengan demikian, kurikulum pendidikan seyogyanya bisa
mengakomodasi dimensi vertikal maupun horisontal pendidikan anak.Secara
vertikal, anak-anak berbakat harus dimungkinkan untuk menyelesaikannya
pendidikannya lebih cepat.Secara horisontal, disediakan program pengayaan
(enrichment), dimana siswa berbakat dimungkinkan untuk menerima materi
tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar tambahan, baik
dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar tambahan.
2.
Model Pembelajaran
Untuk layanan pendidikan terhadap anak berbakat ini ada
beberapa model yang dapat digunakan, yaitu; pengayaan, percepatan, dan
segregasi. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Philip E. Veron (1979; 142)
sebagai berikut; “Acceleration,segregation, and enrichment”. Sedangkan David G.
Amstrong and Tom V. Savage(19883; 327) mengemukakan dua model, yaitu;
“Enrichment and acceleration”.
Penjelasan dari model-model di atas adalah sebagai berikut :
·
Pengayaan (enrichment)
Dalam model enrichment ini anak mendapatkan pembelajaran
tambahan sebagai pengayaan.Pengayaan ini dapat dilakukan melalui dua cara,
yaitu sebagaiberikut :
a)
Secara vertikal;
Cara ini untuk memperdalam salah satu atau sekelompok mata
pelajarantertentu.Anak diberi kesempatan untuk aktif memperdalam
ilmuPengetahuan yang disenangi, sehingga menguasai materi pelajaran secaraluas
dan mendalam.
b) Secara horizontal;
Anak diberi kesempatan untuk memperluas pengetahuan dengan
tambahanatau pengayaan yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang
dipelajari.
·
Percepatan (scceleration)
Secara konvensional bagi anak yang memiliki kemampuan
superiordipromosikan untuk naik kelas lebih awal dari biasanya. Dalam
percepatan iniada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut :
a) Masuk sekolah lebih awal/sebelum waktunya (early admission),
misalnyasebelum usia 6 tahun, dengan catatan bahwa anak sudah matang untukmasuk
Sekolah Dasar.
b) Loncat kelas (grade skipping) atau skipping class,
misalnya karenakemampuannya luar biasa pada salah satu kelas, maka langsung
dinaikkanke kelas yang lebih tinggi satu tingkat (dari kelas satu langsung ke
kelastiga).
c) Penambahan pelajaran dari tingkatan di atasnya,
sehingga dapatmenyelesaikan materi pelajaran lebih awal.
d) Maju berkelanjutan tanpa adanya tingkatan kelas. Dalam
hal ini sekolahtidak mengenal tingkatan, tetapi menggunakan sistem kredit. Ini
berarti anakberbakat dapat maju terus sesuai dengan kemampuannya tanpa
menungguteman-teman yang lainnya.
·
Segregasi
Anak-anak berbakat dikelompokkan ke dalam satu kelompok yang
disebut “ability grouping” dan diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman
belajar yang sesuai dengan potensinya. Mengenai sistem penyelenggaraan
pendidikan, selain yang telah dikemukakan di atas, ada beberapa sistem dalam
pendidikan bagi anak berbajat, yaitu; (1) Sekolah khusus, (2) Kelas khusus, dan
(Terintegrasi dalam kelas regular atau normal dengan perlakukan khusus.
Model pertama dan ke dua nampaknyabanyak mengundang kritik,
karena cenderung eksklusif dan elit, sehingga bias menimbulkan kecemburuan
sosial. Kedua sistem ini hanya bisa dilakukan untuk bidang-bidang tertenu
saja.Model yang kini populer adalah sistem dimana anak-anak berbakat
diintegrasikan dalam kelas reguler atau normal.Cara ini mempunyai banyak
keuntungan bagi perkembangan psikologis dan sosial anak. Hal yang menyulitkan
adalah bagaimanakah perhatian diberikan secara berbeda melalui apa yang disebut
“pengajaran yang diindividualisasikan”, yaitu settingnya kelas tetapi perhatian
diberikan kepada individu anak. Konsekwensinya perlu kurikulum yang fleksibel,
yaitu kurikulum yang berdiferensiasi, yang bisa mengakomodasi anak-anak biasa
dan anak berbakat.
Pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan anak berbakat menyangkut
bagaimana anak-anak diperlakukan di sekolah melalui sistem
pengelompokkan.Sistem pengelompokkan bermacam-macam, tetapi intinya ada dua,
yaitu pengelompokkan homogen dan heterogen.Dasar pengelompokkan bisa berupa
jenis kelamin, tingkat kemampuan belajar, atau minat-minat khusus pada mata
pelajaran tertentu.
Fahrle, Duffi dan Schulz (1985)
dalam DediSupriadi (1992; 23) mengemukakan bahwa program pendidikan untuk
anak-anak berbakat harus memberikan kepada anak-anak dua macam pengalaman yang
bernilai sosial.Pertama mereka harus memiliki kesempatan untuk bergaul secara
luas dan wajar dengan teman-teman sebayanya.Kedua program pendidikan untuk
anak-anak berbakat harus menyediakan peluang kepada peserta didik untuk secara
intelektual tumbuh bersama rekan-rekan sebayanya.
Sistem manapun yang dipilih,
penyelenggara harus tetap berpegang pada prinsip bahwa pendidikan itu tidak
boleh mengorbankan fungsi sosialisasi nilai-nilai budaya (toleransi,
solidaritas, kerja sama) kepada anak. Program pendidikan untuk anak-anak
berbakat tidak identik dengan perlakuan yang eksklusif dan elitis, melainkan
semata-mata supaya untuk memberikan peluang kepada anak didik untuk berkembang
sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Dalam layanan pendidikan bagi anak
berbakat, khususnya pada jenjang sekolah dasar di Indonesia saat ini adalah
sistem yang terpadu, yakni anak-anak berbakat masuk ke sekolah yang samaadian
mereka diperlakukan dengan system pengajaran yang dindividualisasikan, yakni
sistem yang memberikan perhatiansecara individual kepada setiap siswa dalam
kelas biasa. Dengan demikian yang diperlukan dalam layan pendidikan bagi anak
berbakat khususnya pada sekolah dasar, bukanlah sekolah, kelas, ataupun
kurikulum khusus, melainkan modifikasi kurikulum dan sarana pendukungnya agar
sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat.
3.
Model Penilaian
Pada bagian bagian identiffikasi telah dikemukakan trntsng
penilsisn snsk berbakat, pada bagian ini akan dikemukakan alat dan aspek
penilaian. Proses penilaian pada anak berbakat sebetulnya tidak berbeda dari
penilaian pada umumnya, namun karena pada cakupan kurikulum berbeda, maka akan
berbeda dalam penerapan penilaian.
Penerapan penilaian mencakup ciri-ciri belajar yang
berkenaan dengan tingkat berfikir tinggi.Biasanya anak berbakat sering mampu
menilai hasil kinerjanya sendiri secara kritis. Selain itu setiap anak tersebut
harus memperoleh umpan balik tentang hasil kinerjanya secara terbuka (Conny
Semiawan; 1994; 273).
Biasanya penilaian yang menunjuk pada suatu asesmen
dilakukan oleh guru
yang bukan saja mengenal muridnya, melainkan juga melatih,
mendidik dan mengamatinya sehari-hari. Asesmen ini adalah langkah dalam proses
penyerahan dan penempatan tertentu dan merupakan rangkaian upaya perolehan
informasi dan bukan semata-mata hasil proses tersebut.
Tujuan pengukuran pada dasarnya berbeda-beda, bila
hendakmembandingkan anak tertentu, maka gunakan pengukuran acuan norma dengan :
-
Membandingkan anak berbakat dengan
seluruh populasi.
-
Membandingkan anak berbakat dengan
teman sebaya.
-
Membandingkan anak berbakat dengan
populasi anak berbakat lagi.
-
Membandingkan anak berbakat dengan
dirinya sendiri.
4.
Guru Anak Berbakat
Untuk menangani anak berbakat di Sekolah Dasar, tentunya
membutuhkan guru-guru yang memiliki kemampuan yang khusus. Dalam hal ini David
G. Armstrong And Tom V. Savage (1983; 334) mengutip pendapat James O. Schnur
(1980) sebagai berikut; “most descriptions of capable teachers of the gifted
and talnted”. Deskripsi kemampuan guru yang dimaksud adalah sebagai berikut :
-
Memiliki kematangan dan keamanan.
-
Memiliki kreativitas dan
fleksibilitas.
-
Memiliki kemampuan
mengindividualisasikan materi pelajaran.
-
Memiliki kedalaman pemahaman terhadap
pengajaran.
Gifted Children (Bagian 1)
10.08.2015
Apa itu Gifted children? Gifted children (GC)
atau sering dijuluki dengan anak jenius adalah anak yang mempunyai
kemampuan melebihi populasi anak seusianya. Jumlah pasti gifted children
tidak diketahui karena luasnya definisi dari gifted children, tetapi
diperkirakan jumlah gifted children sebesar 2-5 persen. Di masyarakat
sendiri, sosialisasi mengenai gifted children masih jarang. National
association for gifted children, sebuah organisasi beranggotakan orang
tua, guru, dan para professional yang mempunyai misi untuk mengoptimalkan
kemampuan dan bakat gifted children, melaporkan pertanyaan terbanyak
yang diterima adalah masalah mengenali dan cara mengoptimalkan potensi gifted
children.
Lewis Teman menyatakan gifted children
sebagai anak dengan kemampuan intelligence quotient (IQ)>140,
sedangkan ahli lain menyebut gifted children sebagai anak yang
mempunyai potensi tinggi. Gifted children dilabel pada anak yang
memiliki potensi tinggi, kemampuan intelegensia dan atau bakat spesifik di atas
kemampuan rata- rata di kumpulan anak umur tersebut.
National association for gifted children
menyatakan bahwa gifted children sebagai anak dengan
kemampuan/bakat yang luar biasa pada satu atau lebih jenis intelegensia,
yang mencakup intelegensia bahasa, logis- matematika, spasial, musical,
somatokinetik, interpersonal, dan naturalism.
Pembagian gifted children berdasarkan nilai IQ (Wechelrer
Intelligence Score)|
Pembagian |
Nilai IQ |
|
Moderately gifted |
130-144 |
|
Highly gifted |
145-159 |
|
Profoundly gifted |
>180 |
Kemampuan intelegensia umumnya dinilai dari intelligence
quotient (IQ). Gifted children menunjukkan nilai IQ yang tinggi
di atas rata- rata IQ pada populasi yaitu >130. Walaupun demikian, tes IQ
bukanlah satu- satunya tes intelegensia yang dapat dilakukan. Tes IQ dapat
gagal pada gifted children yang belum dapat membaca dengan baik, atau
bila gifted children yang mengalami hari yang buruk. Nilai IQ juga
hanya menggambarkan tingkat intelektual dalam domain bahasa dan logika-
matematika sehingga indentifikasi gifted children lebih baik bila
dilakukan dengan beberapa macam uji.
Gifted children pada umumnya sudah
terlihat berbeda sejak periode masa bayi. Mereka tampak lebih aktif dan siaga.
Selain menunjukkan kemampuan kognitif yang melebihi usia anak sebayanya, mereka
lebih peka dalam hal emosional.
Beberapa masalah dan penyakit yang dapat timbul
pada gifted chidren, yaitu perilaku berbicara terlalu banyak, sulit
bekerja berkelompok, keras kepala, dan perfeksionis atau sempurna membuat gifted
children tidak disukai oleh teman sebayanya. Guru sekolah juga gifted
children sebagai anak yang nakal dan sering melawan. Lompat kelas
mengikuti kemampuan intelegensia yang terlalu sering dapat membuat
masalah beradaptasi dengan teman yang lebih tua. Umumnya, perkembangan emosi-
sosial gifted children jauh tertinggal dari kemampuan intelegensia. Di
samping kelebihan, gifted children juga tidak terlepas dari kekurangan
seperti risiko gangguan perilaku, yaitu attention deficit hyperactivity
disorder (ADHD), autism syndrome disorder (ASD), atau kesulitan
belajar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar