Jumat, 10 Juni 2016

konseling keluarga dan pendekatan gestalt



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt, sebab karena rahmat dan nikmat-Nyalah saya dapat menyelesaikan sebuah tugas makalah yang berjudul “Konseling Keluarga dan Pendekatan Gestalt”. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang diberi  oleh dosen yang bersangkutan serta sebagai bahan bacaan untuk mahasiswa dapat menambah wawasan keilmuan.
    Adapun sumber-sember dalam pembuatan makalah ini didapatkan dari beberapa buku yang membahas tentang materi yang berkaitan dan juga melalui media internet. Kami sebagai penyusun makalah ini, sangat berterima kasih kepada penyedia sumber walau tidak dapat secara langsung untuk mengucapkannya.
    Kami menyadari bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan, begitu pun dengan kami yang masih seorang mahasiswa. Dalam pembuatan makalah ini mungkin masih banyak sekali kekurangan-kekurang yang ditemukan, oleh karena itu kami mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya mangharapkan ada kritik dan saran dari para pembaca sekalian dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.



Hormat Kami


Pemakalah




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A.    Sejarah Konseling Keluarga
B.     Memahami Konseling Keluarga
1.      Perubahan kehidupan keluarga
2.      Kehidupan berantakan (broken home)
3.      Kasus siswa di sekolah
4.      Konseling keluarga di sekolah
C.     Pendekatan Gestalt
1.      Konsep dasar konseling gestalt
2.      Tujuan pendekatan konseling gestalt
3.      Peran konselor
4.      Proses pendekatan gestalt
5.      Teknik pendekatan gestalt
6.      Aplikasi pendekatan gestalt dalam konseling keluarga
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Keluarga merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai perilaku sosial yang berbeda yang dimiliki oleh setiap individu yang berada di dalam sebuah keluarga tersebut. Individu yang berada dalam sebuah keluarga yang harmonis terdiri atas seorang ayah, seorang ibu dan anak-anak.
Kehidupan masyarakat khususnya keluarga, tidak akan pernah lepas dari masalah, konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Ini merupakan hal yang wajar sebagai suatu tahapan dari pengalaman hidup dan perkembangan diri seseorang.
Ada banyak upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah/ krisis keluarga. Ada dengan cara tradisional dan ada pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan cara ilmiah. Pemecahan masalah keluarga dengan cara tradisional terbagi dua bagian. Pertama, kearifan atau dengan cara kasih sayang, kekeluargaan. Kedua orang tua dalam menyelesaikan krisis keluarga terutama yang berhubungan dengan masalah anak dan istri. Cara ilmiah adalah cara konseling keluarga (family conseling). Cara ini adalah yang telah dilakukan oleh para ahli konseling diseluruh dunia. Ada dua pendekatan dilakukan dalam hal ini: 1). Pendekatan individual atau juga disebut konseling individual yaitu upaya menggali emosi, pengalaman dan pemikiran klien. 2). Pendekatan kelompok (family conseling). Yaitu diskusi dalam keluarga yang dibimbing oleh konselor keluarga.
Tujuan utama konseling keluarga adalah untuk memperlancar komunikasi diantara anggota keluarga yang mungkin karena sesuatu hal terputus. Para anggota keluarga berusaha secara bersama-sama untuk mengembangkan komunikasi diantara mereka. Terjadinya hambatan komunikasi mungkin disebabkan oleh beberapa hal antara lain: terjadi konflik antar anggota keluarga ataupun adanya masalah diantara individu-individu dalam keluarga.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, makan dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah latar belakang kehidupan keluarga?
2.      Bagaimanakah memahami konseling keluarga?
3.      Apa itu terapi pendekatan gestalt?
4.      Bagaimana Intervensi terapi Gestalt terhadap konseling keluarga?
C.      Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1.      Dapat mengetahui bagaimana latar belakang kehidupan keluarga.
2.      Dapat memahami bagaimana konseling keluarga.
3.      Mengetahui apa itu terapi pendekatan gestalt
4.      Dapat memahami intervensi terapi Gestalt terhadap konseling keluarga.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    SEJARAH KONSELING KELUARGA
Sejarah perkembangan konseling keluarga di dunia berasal dari Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 1919 yakni sesudah perang dunia I , Magnus Hirschfeld mendirikan klinik pertama untuk pemberian informasi dan nasehat tentang masalah seks di Berlin Institut For sexual science. Pusat informasi dan advis yang sama didirikan pula di Vienna pada tahun 1922 0leh Karl Kautsky dan kemudian pusat lain didirikan lagi di Berlin pada tahun 1924. Di Amerika Serikat  ada dua penentu yang masing-masing berkaitan dalam perkembangan gerakannya yaitu: 1). Adanya perkembangan pendidikan keluarga yang diusahakan secara akademik, dan kemudian menjadi pendidikan orang dewasa. 2). Munculnya konseling perkawinan dan keluarga terutama dalam masalah-masalah hubungan diantara anggota keluarga (suami, istri dan anak-anak) dalam konteks kemasyrakatan. Tokoh yang ulung dalam bidang pendidikan kehidupan perkawinan dan keluarga pada awal sejarah masa lalu adalah Ernest Rutherford Gover (1877-1948).
Perbedaan yang mencolok antara konseling Amerika Serikat dan Eropa adalah: Amerika Serikat telah berorientasi teoritis (academic setting) misalnya dengan menganut aliran-aliran psikologi terkenal, sedangkan Eropa hanya berawal dari praktisi (para dokter terutama dokter kandungan) tanpa memikirkan aspek teoritisnya. Sedangkan istilah family conseling (konseling keluarga) sama dengan family therapy, dimana yang terakhir itu lebih populer di AS. Pada masa perkembangan selanjutnya, konseling keluarga lebih banyak digarap oleh para terapis dibidang psikiatri. Sebelumnya di AS lebih terkenal istilah family conseling (konseling keluarga). Karena pelopornya adalah para psikolog  seperti Grover.
Perkembangan konseling keluarga di Indonesia sendiri tertimbun oleh maraknya perkembangan bimbingan dan konseling di sekolah. Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah pada masa tahun 60-an bahkan sampai pada saat ini dirasakan sebagai suatu kebutuhan, karena banyak sekali masalah-masalah siswa, seperti kesulitan belajr, penyesuaian sosial, dan masalah perilaku siswa yang tidak dapat dipecahkan oleh guru biasa. Jadi diperlukan guru BK untuk membantu siswa. Namun sejak awal, lulusan BK ini memang sangat sedikit, sehingga sekolah mengambil kebijakan menjadikan guru biasa merangkap BK. Hal ini telah mencemarkan nama BK karena banyak perlakuan “guru BK” yang tidak sesuai denga prinsip-prinsip BK, seperti memarahi siswa, bahkan ada yang memukul. Mengenai kasus keluarga, banyak juga ditemukan di sekolah seperti siswa yang menyendiri, dan suka bermenung. Dan memang belakngan diketahui ternyata keluarganya berantakan, misalnya ayah ibu bertengkar dan bercerai.
Dalam proses perkembangan konseling keluarga terdapat dua dimensi orientasi: 1) orientasi praktis, yaitu kebenaran tentang perilaku tertentu diperoleh dari pelaksanaan proses konseling di lapangan. Gaya kepribadian konselor praktis dengan gaya konduktor, kepribadiannya hebat, giat, dapat menguasai audence sehingga mereka terpana. Selamjutnya dengan gaya reaktor, yaitu kepribadian konselornya cenderung tidak menguasai, menggunakan taktik secara dinamika kelompok dikeluarga. 2) orientasi teoritis, cara yang ditempuh adalah dengan mengadakan penelitian.
Selanjutnya pengelompokan konselor, yaitu terdapat dua (A-Z) 1) pengelompokan konselor (A) menurut Guerin 1976, dalam praktiknya, sering memandu anggota keluarga kearah diskusi-diskusi tentang pengalaman, waktu, ruang dalam sesi-sesi terapi. 2) kelompok (Z) yang berorientasi pada sistem. Guerin 1976 ia mengamati bahwa ada tiga parameter penting dalam konseling keluarga model Z ini. a) fokus terapetik yaitu gejala atau pertumbuhan; b) derajat optimisme untuk melunakan perilaku manusia; c) tipe pendidikan yang ditekankan.[1]

B.     MEMAHAMI KONSELING KELUARGA
1.      Perubahan kehidupan keluarga
Dengan berakhirnya perang dunia II, maka terjadilah perubahan dalam sosiokultural dala msyarakat AS. Pengaruh tersebut menggejala pula terhadap keluarga dan anggota-anggotanya. Keluarga mendapatkan tantangan dan tekanan dari luar dan dalam dirinya sedangkan keluarga itu harus tetap bertahan. Kemajuan disegala bidang, terutama ilmu dan teknologi terasa pula dampaknya terhadap keluarga di Indonesia khususnya di kota-kota.
2.      Keluarga Berantakan (broken home)
Yang dimaksud keluarga berantakan dapat dilihat dari dua aspek, yaitu:
1.    Keluarga itu berantakan karena strukturnya tidak utuh, karena meninggal dunia atau bercerai.
2.    Orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah atau ibu jarang ada di rumah, atau tidak memperlihatkan kasih saying lagi.
3.      Kasus Siswa di Sekolah
Banyak kasus siswa di sekolah yang bersumber dari keadaan keluarganya, misalnya krisis keluarga. Biasanya, jika ternyata memang kasus itu berkaitan erat dengan masalah keluarga, maka guru pembimbing akan berusaha melakukan kunjungan rumah.
4.      Konseling Keluarga dan Sekolah
Keluarga dan sekolah merupakan dua sistem yang amat penting dalam kehidupan anak dan remaja. Keluarga berperan utama dalam mempengaruhi anak-anak dalam proses perkembangan dan sosialisasinya. Sekolah tidak hanya mengembangkan keterampilan kognitif, akan tetapi juga mempengaruhi perkembangan perilaku emosional dan sosial.[2]
Family counseling atau konseling keluarga adalah upaya yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembabng seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.[3]

C.    PENDEKATAN GESTALT
1.      Konsep Dasar Konseling Gestalt
Pendekatan Gestalt merupakan bentuk terapi perpaduan antara eksistensial-humanistis dan fenomenologi, sehingga memfokuskan diri pada pengalaman klien “here and now” dan memadukannya dengan bagian-bagian kepribadian yang terpecah di masa lalu. Kemunculan terapi gestalt dipelopori oleh Frederick Perls.
Menurut pandangan Gestalt, untuk mengetahui sesuatu hal kita harus melihatnya secara keseluruhan, karena bila hanya melihat pada bagian tertentu saja, kita akan kehilangan karakteristik penting lainnya. Hal ini juga berlaku bagi tingkah laku manusia. Untuk menjadi pribadi yang sehat, individu harus merasakan dan menerima pengalamannya secara keseluruhan tanpa berusaha menghilangkan bagian-bagian tertentu. Ini dilakukan untuk mencapai keseimbangan. Tetapi, pada individu yang tidak sehat mengalami ketidakseimbangan, maka akan muncul ketakutan dan ketegangan sehingga melakukan reaksi penghindaran untuk menyadarinya secara nyata.
Seperti halnya client-centered yang mendorong klien untuk melakukan penafsiran dan menemukan makna masalahnya sendiri, Gestalt juga menekankan peran aktif klien untuk secara sadar mencapai kematangan pribadi dengan menemukan sendiri makna masalahnya.[4]
Konsep dasar dari konseling Gestalt ini adalah pendangan mereka terhadap individu dan perkembangan kepribadian. Pandangan-pandangan tersebut adalah:
a.       Dorongan untuk beraktualisasi diri atau dorongan untuk mewujudkan diri
b.      Perkembangan kepribadian, yang merupakan hasil perjuangan individu untuk menyeimbangkan  keinginan-keinginan yang ada pada dirinya yang seringkali berada dalam konflik.[5]

2.      Tujuan Pendekatan Konseling Gestalt
Secara spesifik, tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut:
·         Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas yang ada serta mendapatkan pemahaman (insight) secara penuh.
·         Membantu klien menuju pencapaian keterpaduan (integritas) kepribadian yang dimilikinya
·         Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain, ke mengatur diri sendiri
·         Meningkatkan kesadaran individual.[6]

3.      Peran Konselor
Untuk mencapai tujuan konseling ini, peranan konselor adalah:
·         Konselor membangun suasana yang memungkinkan klien dapat menampilkan diri, membuka diri dan berusaha mengenali, memahamai, menerima dan menyadari dirinya sendiri
·         Apabila klien sudah menyadari dirinya sendiri dan lingkungannya, kemudian konselor berusaha menyeimbangkan keinginan yang ada
·         Konselor memberi kesempatan bagi klien untuk berkembang

4.      Proses Pendekatan Gestalt
Tahap-tahap penyelenggaraan konseling dengan menggunakan pendekatan ini, ialah:
·         Tahap pertama, konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien
·         Tahap kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien
·         Tahap ketiga, konselor mendorong klien untuk dapat mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini.
·         Tahap keempat, setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik.[7]

5.       Teknik Pendekatan Gestalt
Adapun teknik-teknik dalam konseling Gestalt, ialah:
·         Klien diarahkan untuk menggunakan kata ganti orang (personal pronoun)
·         Perubahan bahasa
·         Latihan “saya bertanggungjawab”
·         Membagi kesedihan dengan cara melakukan refleksi perasaan
·         Melakukan permainan proyeksi
·         Konselor menyatakan penghargaan terhadap sesuatu hal yang cocok dikemukakan klien
·         Permainan kebalikan
·         Permainan dialog.[8]

6.      Aplikasi Pendekatan Gestalt dalam Konseling Keluarga
Aplikasi teori-teori konseling pada praktek konseling keluarga adalah suatu keharusan. Walter Kempler dalam bukunya experiental Psyhchotherapy mengemukakan pertama kali pendekatan Gestalts terhadap konseling keluarga. Ia sebagai konselor gestalt beranggapan bahwa, pendekatan ini amat dekat dengan pendekatan eksistensial fenomenologis. Dalam deskripsinya mengenai teori dan praktik psikoterapi pengalaman keluarga (family experiential psychotherapy), Kempler menekankan perhatiannya pada perjuangan (encounter) atau interaksi interpersonal dalam situasi terapeutik di sini dan sekarang (here and now). Selanjutnya konselor harus mengembangkan tujuan konseling dengan cara berpartisipasi penuh sebagai manusia (person).
Yang paling penting dalam fase awal konseling keluarga ialah mendorong semangat anggota keluarga untuk berani mengemukakan dunia pribadinya. Kelabunya kehidupan keluarga tidak lain adalah karena berkurangnya kemauan para  anggota untuk mengalami, merasakan pandangan dunia pribadi anggota keluarga yang lain. Yang satu merasa benar sendiri, dan berusaha menyalahkan orang lain sehingga masalah yang ada dalam keluarga itu dirasakan oleh anggota keluarga sebagai masalah yang tidak dimengertinya dan kadang-kadang tidak memperdulikannya. Akan tetapi menunjukkan suatu kemauan untuk melihat dunia orang lain melalui kacamata orang itu sendiri adalah cara konseling yang diinginkan dan arah ini yang perlu dicapai dengan situasi terapeutik dalam  konseling keluarga.[9]
Pendekatan Gestalt memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakannya, apa yang terjadi ketika mereka berkata itu, bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungkan dengan perbuatannya, dan apakah mereka berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya. Yang lebih ditekankan lagi dalam pendekatan ini ialah keterlibatan konselor dalam keluarga. Karena itu, yang terpenting bagi konselor adalah mendengarkan suara dan emosi mereka. Konselor melakukan perjumpaan dalam konseling keluarga sebagai partisipan penuh, sebagai sahabat, sebagai orang yang dipercaya dalam  perjumpaan antara sesama. Konselor membawa kepribadian, reaksi dan pengalaman hidupnya kedalam perjumpaan konseling keluarga. Konselor akrab dengan mereka dan berusaha memahami dan merasakan isi hati mereka. Konseling yang jujur, asli akan terjadi jika individu-individu yang terlibat didalamnya giat berusaha untuk menempatkan diri sebagaimana adanya dan memahami orang lain sebagaimana adanya pula.























BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Konseling Keluarga ini secara khusus memfokuskan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggarannya melibatkan anggota keluarga.
Kehidupan masyarakat khususnya keluarga, tidak akan pernah lepas dari masalah, konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Ada banyak upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan krisis keluarga tersebut.
Pendekatan Gestalt merupakan bentuk terapi perpaduan antara eksistensial-humanistis dan fenomenologi, sehingga memfokuskan diri pada pengalaman klien “here and now” dan memadukannya dengan bagian-bagian kepribadian yang terpecah di masa lalu. Kemunculan terapi gestalt dipelopori oleh Frederick Perls.
Tujuan konseling Gestalt ialah membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas yang ada serta mendapatkan pemehaman (insight) secara penuh dan membantu dalam menuju pencapaian keterpaduan (integritas) kepribadian yang dimilikinya.
Pendekatan Gestalt memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakannya, apa yang terjadi ketika mereka berkata itu, bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungkan dengan perbuatannya, dan apakah mereka berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya.

B.     SARAN
Saya menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, namun walaupun demikian akan mencoba memberi saran yang mungkin akan dapat membangun.
Diharapkan antar anggota keluarga dapat hidup rukun, harmonis dan masalah yang timbul dalam keluarga dapat terselesaikan dengan cara dengan cara tradisional dan ada pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan cara ilmiah.


DAFTAR PUSTAKA

https://aderahmatillahconseling.wordpress.com/bimbingan-konseling-keluarga/
Novi Hendri, 2013, Model-Model Konsling, (Medan: Perdana Publishing)
Numora Lumongga, 2011, Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktik, (Medan: Kencana)
Taufik, 2014, Model-Model Konseling, (Padang: UNP)



[1] https://aderahmatillahconseling.wordpress.com/bimbingan-konseling-keluarga/
[2] http://makalahbimbingankonselingkeluarga.blogspot.co.id/2015/10/makalah-bimbingan-konseling-keluarga_64.html
[3] Ibid.
[4] Numora Lumongga, Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktik, (Medan: Kencana, 2011), hal: 160
[5] Taufik, Model-Model Konseling, (Padang: UNP, 2014), hal: 166
[6] Novi Hendri, Model-Model Konsling, (Medan: Perdana Publishing, 2013), hal: 108
[7] Ibid., hal: 170-176
[8] Taufik, Model-Model Konseling, (Padang: UNP, 2014), hal: 174

Tidak ada komentar:

Posting Komentar