KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt, sebab karena rahmat dan
nikmat-Nyalah saya dapat menyelesaikan sebuah tugas makalah yang berjudul
“Konseling Keluarga dan Pendekatan Gestalt”. Pembuatan makalah ini bertujuan
untuk menyelesaikan tugas yang diberi
oleh dosen yang bersangkutan serta sebagai bahan bacaan untuk mahasiswa
dapat menambah wawasan keilmuan.
Adapun sumber-sember dalam pembuatan
makalah ini didapatkan dari beberapa buku yang membahas tentang materi yang
berkaitan dan juga melalui media internet. Kami sebagai penyusun makalah ini,
sangat berterima kasih kepada penyedia sumber walau tidak dapat secara langsung
untuk mengucapkannya.
Kami menyadari bahwa setiap manusia
memiliki keterbatasan, begitu pun dengan kami yang masih seorang mahasiswa.
Dalam pembuatan makalah ini mungkin masih banyak sekali kekurangan-kekurang
yang ditemukan, oleh karena itu kami mengucapkan mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Saya mangharapkan ada kritik dan saran dari para pembaca
sekalian dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.
Hormat Kami
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A.
Sejarah Konseling Keluarga
B.
Memahami Konseling Keluarga
1. Perubahan kehidupan keluarga
2. Kehidupan berantakan (broken home)
3. Kasus siswa di sekolah
4. Konseling keluarga di sekolah
C.
Pendekatan Gestalt
1. Konsep dasar konseling gestalt
2. Tujuan pendekatan konseling gestalt
3. Peran konselor
4. Proses pendekatan gestalt
5. Teknik pendekatan gestalt
6. Aplikasi pendekatan gestalt dalam
konseling keluarga
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Keluarga merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai
perilaku sosial yang berbeda yang dimiliki oleh setiap individu yang berada di
dalam sebuah keluarga tersebut. Individu yang berada dalam sebuah keluarga yang
harmonis terdiri atas seorang ayah, seorang ibu dan anak-anak.
Kehidupan masyarakat khususnya keluarga, tidak
akan pernah lepas dari masalah,
konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan diri
sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Ini merupakan hal yang wajar
sebagai suatu tahapan dari pengalaman hidup dan perkembangan diri seseorang.
Ada banyak upaya yang dapat dilakukan untuk
menyelesaikan masalah/ krisis keluarga. Ada dengan cara tradisional dan ada
pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan cara ilmiah. Pemecahan
masalah keluarga dengan cara tradisional terbagi dua bagian. Pertama, kearifan atau dengan cara kasih sayang,
kekeluargaan. Kedua orang tua dalam
menyelesaikan krisis keluarga terutama yang berhubungan dengan masalah anak dan
istri. Cara ilmiah adalah cara konseling keluarga (family conseling). Cara ini
adalah yang telah dilakukan oleh para ahli konseling diseluruh dunia. Ada dua
pendekatan dilakukan dalam hal ini: 1). Pendekatan individual atau juga disebut
konseling individual yaitu upaya menggali emosi, pengalaman dan pemikiran
klien. 2). Pendekatan kelompok (family conseling). Yaitu diskusi dalam keluarga
yang dibimbing oleh konselor keluarga.
Tujuan utama konseling keluarga adalah untuk memperlancar
komunikasi diantara anggota keluarga yang mungkin karena sesuatu hal terputus.
Para anggota keluarga berusaha secara bersama-sama untuk mengembangkan
komunikasi diantara mereka. Terjadinya hambatan komunikasi mungkin disebabkan
oleh beberapa hal antara lain: terjadi konflik antar anggota keluarga ataupun
adanya masalah diantara individu-individu dalam keluarga.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, makan dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah latar belakang kehidupan keluarga?
2.
Bagaimanakah memahami konseling keluarga?
3.
Apa itu terapi pendekatan gestalt?
4.
Bagaimana Intervensi terapi Gestalt terhadap konseling
keluarga?
C.
Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun
dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Dapat mengetahui bagaimana latar
belakang kehidupan keluarga.
2. Dapat memahami bagaimana konseling
keluarga.
3. Mengetahui apa itu terapi pendekatan
gestalt
4. Dapat memahami intervensi terapi
Gestalt terhadap konseling keluarga.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH
KONSELING KELUARGA
Sejarah perkembangan
konseling keluarga di dunia berasal dari Eropa dan Amerika Serikat pada tahun
1919 yakni sesudah perang dunia I , Magnus Hirschfeld mendirikan klinik pertama
untuk pemberian informasi dan nasehat tentang masalah seks di Berlin
Institut For sexual science. Pusat informasi dan advis yang sama didirikan
pula di Vienna pada tahun 1922 0leh Karl Kautsky dan kemudian pusat lain
didirikan lagi di Berlin pada tahun 1924. Di Amerika Serikat ada dua
penentu yang masing-masing berkaitan dalam perkembangan gerakannya yaitu: 1).
Adanya perkembangan pendidikan keluarga yang diusahakan secara akademik, dan
kemudian menjadi pendidikan orang dewasa. 2). Munculnya konseling perkawinan
dan keluarga terutama dalam masalah-masalah hubungan diantara anggota keluarga
(suami, istri dan anak-anak) dalam konteks kemasyrakatan. Tokoh yang ulung
dalam bidang pendidikan kehidupan perkawinan dan keluarga pada awal sejarah
masa lalu adalah Ernest Rutherford Gover (1877-1948).
Perbedaan yang mencolok
antara konseling Amerika Serikat dan Eropa adalah: Amerika Serikat telah
berorientasi teoritis (academic setting) misalnya dengan menganut
aliran-aliran psikologi terkenal, sedangkan Eropa hanya berawal dari praktisi
(para dokter terutama dokter kandungan) tanpa memikirkan aspek teoritisnya.
Sedangkan istilah family conseling (konseling keluarga) sama dengan family
therapy, dimana yang terakhir itu lebih populer di AS. Pada masa
perkembangan selanjutnya, konseling keluarga lebih banyak digarap oleh para
terapis dibidang psikiatri. Sebelumnya di AS lebih terkenal istilah family
conseling (konseling keluarga). Karena pelopornya adalah para
psikolog seperti Grover.
Perkembangan konseling
keluarga di Indonesia sendiri tertimbun oleh maraknya perkembangan bimbingan
dan konseling di sekolah. Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah pada masa
tahun 60-an bahkan sampai pada saat ini dirasakan sebagai suatu kebutuhan,
karena banyak sekali masalah-masalah siswa, seperti kesulitan belajr,
penyesuaian sosial, dan masalah perilaku siswa yang tidak dapat dipecahkan oleh
guru biasa. Jadi diperlukan guru BK untuk membantu siswa. Namun sejak awal,
lulusan BK ini memang sangat sedikit, sehingga sekolah mengambil kebijakan
menjadikan guru biasa merangkap BK. Hal ini telah mencemarkan nama BK karena
banyak perlakuan “guru BK” yang tidak sesuai denga prinsip-prinsip BK, seperti
memarahi siswa, bahkan ada yang memukul. Mengenai kasus keluarga, banyak juga
ditemukan di sekolah seperti siswa yang menyendiri, dan suka bermenung. Dan
memang belakngan diketahui ternyata keluarganya berantakan, misalnya ayah ibu
bertengkar dan bercerai.
Dalam proses
perkembangan konseling keluarga terdapat dua dimensi orientasi: 1) orientasi
praktis, yaitu kebenaran tentang perilaku tertentu diperoleh dari pelaksanaan
proses konseling di lapangan. Gaya kepribadian konselor praktis dengan gaya
konduktor, kepribadiannya hebat, giat, dapat menguasai audence sehingga
mereka terpana. Selamjutnya dengan gaya reaktor, yaitu kepribadian konselornya
cenderung tidak menguasai, menggunakan taktik secara dinamika kelompok
dikeluarga. 2) orientasi teoritis, cara yang ditempuh adalah dengan mengadakan
penelitian.
Selanjutnya
pengelompokan konselor, yaitu terdapat dua (A-Z) 1) pengelompokan konselor (A)
menurut Guerin 1976, dalam praktiknya, sering memandu anggota keluarga kearah
diskusi-diskusi tentang pengalaman, waktu, ruang dalam sesi-sesi terapi. 2)
kelompok (Z) yang berorientasi pada sistem. Guerin 1976 ia mengamati bahwa ada
tiga parameter penting dalam konseling keluarga model Z ini. a) fokus terapetik
yaitu gejala atau pertumbuhan; b) derajat optimisme untuk melunakan perilaku
manusia; c) tipe pendidikan yang ditekankan.[1]
B.
MEMAHAMI KONSELING KELUARGA
1.
Perubahan kehidupan keluarga
Dengan
berakhirnya perang dunia II, maka terjadilah perubahan dalam sosiokultural dala
msyarakat AS. Pengaruh tersebut menggejala pula terhadap keluarga dan anggota-anggotanya.
Keluarga mendapatkan tantangan dan tekanan dari luar dan dalam dirinya
sedangkan keluarga itu harus tetap bertahan. Kemajuan disegala bidang, terutama
ilmu dan teknologi terasa pula dampaknya terhadap keluarga di Indonesia
khususnya di kota-kota.
2.
Keluarga Berantakan (broken home)
Yang
dimaksud keluarga berantakan dapat dilihat dari dua aspek, yaitu:
1. Keluarga itu berantakan karena strukturnya tidak utuh,
karena meninggal dunia atau bercerai.
2. Orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu
tidak utuh lagi karena ayah atau ibu jarang ada di rumah, atau tidak
memperlihatkan kasih saying lagi.
3.
Kasus Siswa di Sekolah
Banyak
kasus siswa di sekolah yang bersumber dari keadaan keluarganya, misalnya krisis
keluarga. Biasanya, jika ternyata memang kasus itu berkaitan erat dengan
masalah keluarga, maka guru pembimbing akan berusaha melakukan kunjungan rumah.
4.
Konseling Keluarga dan Sekolah
Keluarga
dan sekolah merupakan dua sistem yang amat penting dalam kehidupan anak dan
remaja. Keluarga berperan utama dalam mempengaruhi anak-anak dalam proses
perkembangan dan sosialisasinya. Sekolah tidak hanya mengembangkan keterampilan
kognitif, akan tetapi juga mempengaruhi perkembangan perilaku emosional dan
sosial.[2]
Family counseling atau konseling keluarga adalah upaya
yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem keluarga
(pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembabng seoptimal mungkin
dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota
keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.[3]
C.
PENDEKATAN GESTALT
1.
Konsep Dasar Konseling Gestalt
Pendekatan Gestalt merupakan bentuk terapi perpaduan antara
eksistensial-humanistis dan fenomenologi, sehingga memfokuskan diri pada
pengalaman klien “here and now” dan memadukannya dengan bagian-bagian
kepribadian yang terpecah di masa lalu. Kemunculan terapi gestalt dipelopori
oleh Frederick Perls.
Menurut pandangan Gestalt, untuk mengetahui sesuatu hal kita
harus melihatnya secara keseluruhan, karena bila hanya melihat pada bagian
tertentu saja, kita akan kehilangan karakteristik penting lainnya. Hal ini juga
berlaku bagi tingkah laku manusia. Untuk menjadi pribadi yang sehat, individu
harus merasakan dan menerima pengalamannya secara keseluruhan tanpa berusaha
menghilangkan bagian-bagian tertentu. Ini dilakukan untuk mencapai
keseimbangan. Tetapi, pada individu yang tidak sehat mengalami ketidakseimbangan,
maka akan muncul ketakutan dan ketegangan sehingga melakukan reaksi
penghindaran untuk menyadarinya secara nyata.
Seperti halnya client-centered yang mendorong klien
untuk melakukan penafsiran dan menemukan makna masalahnya sendiri, Gestalt juga
menekankan peran aktif klien untuk secara sadar mencapai kematangan pribadi
dengan menemukan sendiri makna masalahnya.[4]
Konsep dasar dari konseling Gestalt ini adalah pendangan
mereka terhadap individu dan perkembangan kepribadian. Pandangan-pandangan tersebut
adalah:
a.
Dorongan untuk beraktualisasi diri atau dorongan untuk
mewujudkan diri
b.
Perkembangan kepribadian, yang merupakan hasil perjuangan
individu untuk menyeimbangkan keinginan-keinginan yang ada pada dirinya
yang seringkali berada dalam konflik.[5]
2.
Tujuan Pendekatan Konseling Gestalt
Secara spesifik, tujuan konseling Gestalt adalah sebagai
berikut:
·
Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi,
memahami kenyataan atau realitas yang ada serta mendapatkan pemahaman (insight)
secara penuh.
·
Membantu klien menuju pencapaian keterpaduan (integritas)
kepribadian yang dimilikinya
·
Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada
pertimbangan orang lain, ke mengatur diri sendiri
·
Meningkatkan kesadaran individual.[6]
3.
Peran Konselor
Untuk mencapai tujuan konseling ini,
peranan konselor adalah:
·
Konselor membangun suasana yang memungkinkan klien dapat
menampilkan diri, membuka diri dan berusaha mengenali, memahamai, menerima dan
menyadari dirinya sendiri
·
Apabila klien sudah menyadari dirinya sendiri dan
lingkungannya, kemudian konselor berusaha menyeimbangkan keinginan yang ada
·
Konselor memberi kesempatan bagi klien untuk berkembang
4.
Proses Pendekatan Gestalt
Tahap-tahap penyelenggaraan konseling dengan menggunakan
pendekatan ini, ialah:
·
Tahap pertama, konselor mengembangkan pertemuan konseling,
agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan
pada klien
·
Tahap kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengondisikan
klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi
klien
·
Tahap ketiga, konselor mendorong klien untuk dapat
mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk
mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi
di sini dan saat ini.
·
Tahap keempat, setelah klien memperoleh pemahaman dan
penyadaran tentang pikiran, perasaan dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan
klien memasuki fase akhir. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang
mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik.[7]
5.
Teknik Pendekatan
Gestalt
Adapun
teknik-teknik dalam konseling Gestalt, ialah:
·
Klien diarahkan untuk menggunakan kata ganti orang (personal
pronoun)
·
Perubahan bahasa
·
Latihan “saya bertanggungjawab”
·
Membagi kesedihan dengan cara melakukan refleksi perasaan
·
Melakukan permainan proyeksi
·
Konselor menyatakan penghargaan terhadap sesuatu hal yang
cocok dikemukakan klien
·
Permainan kebalikan
·
Permainan dialog.[8]
6.
Aplikasi Pendekatan Gestalt
dalam Konseling Keluarga
Aplikasi teori-teori konseling pada praktek konseling
keluarga adalah suatu keharusan. Walter Kempler dalam bukunya experiental
Psyhchotherapy mengemukakan pertama kali pendekatan Gestalts terhadap
konseling keluarga. Ia sebagai konselor gestalt beranggapan bahwa, pendekatan
ini amat dekat dengan pendekatan eksistensial fenomenologis. Dalam deskripsinya
mengenai teori dan praktik psikoterapi pengalaman keluarga (family
experiential psychotherapy), Kempler menekankan perhatiannya pada
perjuangan (encounter) atau interaksi interpersonal dalam situasi
terapeutik di sini dan sekarang (here and now). Selanjutnya konselor
harus mengembangkan tujuan konseling dengan cara berpartisipasi penuh sebagai
manusia (person).
Yang paling penting dalam fase awal konseling keluarga ialah
mendorong semangat anggota keluarga untuk berani mengemukakan dunia pribadinya.
Kelabunya kehidupan keluarga tidak lain adalah karena berkurangnya kemauan
para anggota untuk mengalami, merasakan pandangan dunia pribadi anggota
keluarga yang lain. Yang satu merasa benar sendiri, dan berusaha menyalahkan
orang lain sehingga masalah yang ada dalam keluarga itu dirasakan oleh anggota
keluarga sebagai masalah yang tidak dimengertinya dan kadang-kadang tidak
memperdulikannya. Akan tetapi menunjukkan suatu kemauan untuk melihat dunia
orang lain melalui kacamata orang itu sendiri adalah cara konseling yang
diinginkan dan arah ini yang perlu dicapai dengan situasi terapeutik
dalam konseling keluarga.[9]
Pendekatan Gestalt memberikan perhatian kepada apa yang
dikatakan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakannya, apa yang terjadi
ketika mereka berkata itu, bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungkan dengan
perbuatannya, dan apakah mereka berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya. Yang
lebih ditekankan lagi dalam pendekatan ini ialah keterlibatan konselor dalam
keluarga. Karena itu, yang terpenting bagi konselor adalah mendengarkan suara
dan emosi mereka. Konselor melakukan perjumpaan dalam konseling keluarga
sebagai partisipan penuh, sebagai sahabat, sebagai orang yang dipercaya
dalam perjumpaan antara sesama. Konselor membawa kepribadian, reaksi dan
pengalaman hidupnya kedalam perjumpaan konseling keluarga. Konselor akrab
dengan mereka dan berusaha memahami dan merasakan isi hati mereka. Konseling yang
jujur, asli akan terjadi jika individu-individu yang terlibat didalamnya giat
berusaha untuk menempatkan diri sebagaimana adanya dan memahami orang lain
sebagaimana adanya pula.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Konseling
Keluarga ini secara khusus memfokuskan pada masalah-masalah yang berhubungan
dengan situasi keluarga dan penyelenggarannya melibatkan anggota keluarga.
Kehidupan masyarakat khususnya keluarga, tidak
akan pernah lepas dari masalah,
konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan diri
sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Ada banyak upaya yang dapat
dilakukan untuk menyelesaikan krisis keluarga tersebut.
Pendekatan Gestalt merupakan bentuk
terapi perpaduan antara eksistensial-humanistis dan fenomenologi, sehingga
memfokuskan diri pada pengalaman klien “here and now” dan memadukannya
dengan bagian-bagian kepribadian yang terpecah di masa lalu. Kemunculan terapi
gestalt dipelopori oleh Frederick Perls.
Tujuan konseling Gestalt ialah
membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau
realitas yang ada serta mendapatkan pemehaman (insight) secara penuh dan
membantu dalam menuju pencapaian keterpaduan (integritas) kepribadian yang
dimilikinya.
Pendekatan Gestalt
memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota keluarga, bagaimana
mereka mengatakannya, apa yang terjadi ketika mereka berkata itu, bagaimana
ucapan-ucapannya jika dihubungkan dengan perbuatannya, dan apakah mereka
berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya.
B. SARAN
Saya menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki, namun walaupun demikian akan mencoba memberi saran yang mungkin akan
dapat membangun.
Diharapkan antar anggota keluarga dapat
hidup rukun, harmonis dan masalah yang timbul dalam keluarga dapat
terselesaikan dengan cara dengan cara tradisional dan ada pula dengan cara modern atau yang
sering disebut dengan cara ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
https://aderahmatillahconseling.wordpress.com/bimbingan-konseling-keluarga/
Novi Hendri, 2013, Model-Model
Konsling, (Medan: Perdana Publishing)
Numora Lumongga, 2011, Memahami
Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktik, (Medan: Kencana)
Taufik, 2014, Model-Model Konseling,
(Padang: UNP)
[1]
https://aderahmatillahconseling.wordpress.com/bimbingan-konseling-keluarga/
[2]
http://makalahbimbingankonselingkeluarga.blogspot.co.id/2015/10/makalah-bimbingan-konseling-keluarga_64.html
[3] Ibid.
[4] Numora Lumongga, Memahami
Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktik, (Medan: Kencana, 2011), hal:
160
[5] Taufik, Model-Model Konseling,
(Padang: UNP, 2014), hal: 166
[6] Novi Hendri, Model-Model
Konsling, (Medan: Perdana Publishing, 2013), hal: 108
[7] Ibid., hal: 170-176
[8] Taufik, Model-Model Konseling,
(Padang: UNP, 2014), hal: 174
Tidak ada komentar:
Posting Komentar